pupukHANTU tidak boleh dicampur dengan bahan kimia lainnya, berikut tangki penyemprotan yang digunakan harus bersih dari sisa-sisa bahan kimia seperti sisa insektisida, herbisisa, fungisida dll. Waktu pemakaian yang tepat yaitu pagi atau sore hari karena pada saat tersebut adalah waktu membukanya stomata/ mulut
Adapupuk yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat berlawanan jika dicampur. Jenis pupuk yang bersifat berlawanan jika dicampur dapat mengakibatkan hilangnya unsur hara, salah satu unsur hara tidak dapat diserap tanaman, bahkan ada yang bisa meracuni tanaman. Baca Juga: Ingin Membuat Pestisida Alami,Praktis, dan Aman Beginilah Caranya!
Apakaheco Farming bisa dicampur pestisida? 1 Menjawab: Linda1966. Penggunaan eco farming sebaiknya tidak campur dengan pupuk kimia atau pestisida kimia secara bersamaan, karena akan mengurangi manfaat Eco Farming terutama bakteri positif yang ada dalam Eco Farming tidak aktif bahkan bisa mati. 11 nov 2020.
Caramencampur Produk Jimmy Hantu dengan insektisida maupun fungisida. #jimmyhantu#toxedown#tanamanjagung#zptratubiogen#jagotani#pocijoroyoroyo#petaniberdasi
Hindaripencampuran Zat anti hama / pestisida dengan Pupuk Hormon Hantu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Apabila Solo / tank penyemprotan yang digunakan bekas penyemprotan zat anti hama / pestisida maka, cuci sebersih mungkin tank / solo sebelum digunakan untuk penyemprotan Hantu.
Meningkatkanhasil dan kualitas Panen. Bolehkah Pupuk Organik Dicampur Pupuk Kimiaini Dia. Phonska Oca Pt Petrokimia Gresik Patokan yang sering dipakai adalah 50 dosis pupuk kimia diganti dengan sejumlah pupuk organik. Bolekah pupuk organik dicampur obat kimia. Dengan penggunaan pupuk organik hayati maka keberlangsungan kesuburan lahan petanian di masa depan dapat terjaga dengan baik ujar []
. Cara Aplikasi Pestisida Efektif – Pada artikel sebelumya telah kita bahas bahwa, pestisida terutama insektisida akan efektif dengan air pH rendah atau kondisi asam. Artinya efektifitas pestisida akan menurun manakala kita mencampurnya dengan bahan alkali. Pada artikel tersebut juga dibahas bahwa jika air yang digunakan memiliki pH tinggi maka perlu diturunkan dengan cara menambhakan larutan asam nitrat HNO3 atau asam asetat cuka. Selengkapnya bisa anda baca pada artikel berikut >> Bisa Jadi Karena Ini, Aplikasi Pestisida Anda Tidak Ngefek..! Jadi, ada beberapa cara agar aplikasi pestisida efektif antara lain teknik aplikasi musti tepat juga jangan mencampur dengan bahan-bahan alkali. Apa sih sebenarnya bahan alkali itu ? Bahan alkali adalah bahan yang membawa ion OH- yang dapat meningkatkan nilai pH menjadi lebih tinggi daripada nilai yang dianjurkan menjadi basa. Ada kalanya, ada saja petani yang menambahkan senyawa alkali ke larutan semprot. Mungkin maksutnya biar hemat tenaga dan waktu, jadi pemberian unsur hara tertentu dibarengkan saat penyemprotan pestisida. Berikut ini bahan atau senyawa yang tergolong bahan alkali Kapur kalsium Kapur belerang Soda kaustik Potas kaustik Abu soda Magnesia atau kapur dolomit Amonia cair Tau kah anda sobat BT, bahwa perilaku tersebut bisa menghidrolisis bahan aktif pestisida terutama yang sangat peka terhadap bahan alkali atau larutan ber-pH tinggi. Makanya pada beberapa produk pestisida disarankan tidak dicampur dengan pupuk daun khususnya makro sekunder, mungkin takut nanti terjadi hidrolisis. Insektisida pada umumnya lebih peka dibanding fungisida atau herbisida, contoh bahan aktif yang peka terhadap bahan alkali yaitu golongan organofosfat contoh bahan aktif klorpirifos, asefat, piretroid siflutrin, bifentrin dan karbamat metiokarb. Oiya mungkin belum tau apa itu hidrolisis. Hidrolisis adalah proses kimia yang dapat memecah atau membelah suatu senyawa menjadi lebih kecil lagi. Maksutnya bahan aktif insektisida yang terhidrolisis menjadi terurai menjadi bahan yang tidak aktif lagi. Hasil dari proses hidrolisis adalah nilai pH larutan yang tinggi pH>7, padahal nilai pH larutan semprot yang dianjurkan menurut BALITSA adalah 4,5 sampai 5. pH di atas itu pH>4,5 – 5 berdampak umur larutan jadi makin pendek. Bahan aktif akan mudah terurai sehingga menjadi kurang efektif, daya efikasinya menurun bahkan sebelum mengenai hama penyakit sasaran. Petani masih belum banyak yang tahu ? Saya pikir masih sangat sedikit sekali petani yang tahu hal ini. Nilai pH basa selain karena ditambah senyawa atau bahan alkali, bisa jadi karena air yang digunakan udah dari sananya ber-pH tinggi. Maksutnya sudah basa dari sumber air-nya. Hal tersebut sangat mungkin terutama jika tanah dan lahannya cenderung bertanah kapur, seperti daerah Gresik, Lamongan, Tuban dan Gunung Kidul Yogyakarta. Solusi cara mencegah hidrolisis 1. Tidak disarankan mencampur pupuk daun terutama yang mengandung unsur logam alkali seperti Ca kalsium, atau Mg magnesium. 2. Cek secara berkala pH larutan semprot, jika masih basa tambahkan larutan asam asam nitrat atau asetat untuk menurunkan pH. 3. Gunakan larutan semprot pestisida segera setelah pencampuran maksimal 6 jam setelah pencampuran air dan pestisida. Jadi, manakala aplikasi insektisida anda tidak mempan, coba anda analisa pH air larutannya. Jika sebelumnya di mix pupuk daun coba aplikasi sendiri-sendiri. Seringkali yang dilakukan petani saat pestisida yang ia beli sebelumnya tidak mempan adalah membeli pestisida lain yang harganya mahal. Bagi orang toko pertanian mah senang-senang saja, barang laku..haha Padahal masalah utamanya adalah pada pH larutan semprot yang cenderung basa alkali tadi. Akibatnya petani sudah rugi waktu, rugi biaya tenaga kerja juga. Baca juga Cara Menanam Cabai/Cabe Panduan Lengkap Untuk Pemula Ngomong-ngomong, anda punya pengalaman yang sama ? Related posts5 Jenis Insektisida Nabati Yang Direkomendasikan Di Amerika SerikatMengenal Insektisida Piretroid, Golongan Insektisida yang Paling Banyak Digunakan Di Seluruh DuniaBerikut Manfaat/Kegunaan Pestisida Yang Banyak Dipakai PetaniMengenal Asal Usul Abamektin Salah Satu Bahan Aktif Andalan PetaniBegini Cara Tanam Cabai Tanpa Pestisida Kimia Tapi Aman Dari Keriting Dan KerdilSering Tak Termanfaatkan dan Terbuang Percuma, Berikut Manfaat Air Cucian Beras
Pestisida dapat memberikan keuntungan bagi para petani khususnya dalam mencegah hama dan penyakit tanaman pertanian. Agar bekerja maksimal, biasanya petani mencampur pestisida satu dengan yang lain. Akan tetapi dalam mencampur pestisida ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan. Berikut cara mencampur pestisida yang baik dan beranjak ke cara mencampur pestisida, terlebih dahulu Anda perlu untuk mengetahui bentuk pestisida. Secara umum, bentuk pestisida ini terbagi menjadi dua yakni padat dan cair. Pestisida yang berbentuk padat ini terbagi menjadi delapan. Di antaranya granule G, water granule WG, wettable powder WP, soluble powder SP, soluble granule SG, soluble dust SD dan seed treatment ST serta ready mix bait RMB. Sedangkan untuk jenis cairnya adalah emulsible concentrate EC, soluble liquid SL, water soluble concentrate WSC, aquaeous solution AS, ultra low volume ULV dan flowable in water FW.Untuk cara kerjanya juga terbagi menjadi dua yakni sistemik dan kontak. Sistemik di sini adalah cara kerjanya diserap oleh bagian tanaman seperti melalui akar, daun dan batang. Lalu, untuk cara kerja kontak memiliki cara kerja di luar bagian tanaman tersebut. Sehingga tidak bisa diserap langsung oleh pestisida memang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Anda pun harus menentukan pestisida mana yang bisa dicampur dan tidak. Sebab reaksi kimia dari pestisida yang berbeda justru akan mematikan tanaman itu sendiri. Selain itu juga membahayakan kesehatan manusia. Agar terhindar dari hal tersebut, ada baiknya Anda menyimak cara mencampur pestisida dengan benar berikut ini.• Campur pestisida yang tidak sejenisLangkah pertama yang perlu Anda perhatikan adalah perhatikan jenis dan golongan pestisida yang akan digunakan. Sebaiknya janganlah sesekali mencampur pestisida dengan jenis yang sama. Contohnya saja untuk pestisida Dithane dengan Antila ataupun Victory. Kedua jenis tersebut mengandung bahan aktif sama yakni mankozeb. Dengan begitu, ini akan membuat Anda semakin risiko jika Anda mencampur pestisida dengan golongan yang sama dapat terjadi reaksi. Bila terjadi gumpalan karena reaksi, maka jangan dicampur. Ada baiknya untuk menggunakannya secara bergantian. Apabila dilakukan penyemprotan tentu hasilnya tidak akan merata.• Jangan campur pesitisida yang punya cara kerja samaCara mencampur pestisida yang kedua selain tidak boleh mencampur pestisida dengan kandungan yang sama, juga dianjurkan tidak boleh mencampur pestisida dengan cara kerja yang sama. Dalam hal ini bisa dicontohkan ketika Anda mencampur pestisida dengan cara kerja sistemik dengan sistemik. Hal ini akan menghasilkan pestisida yang sama pula dan cenderung kurang efektif. Maka, Anda perlu untuk mencampur pestisida yang memiliki cara kerja kontak dengan cara kerja sistemik. Berikutnya untuk langkah ketiga ialah melarutkan pestisida. Cara mencampur pestisida dengan metode pelarutan ini memang tidak mudah dan Anda perlu mengurutkannya berdasarkan jenis dan bahannya. Anda perlu melarutkan pestisida yang tersulit dahulu ke larutan yang mudah larut. Jika dirunut maka urutannya ialah1 Pestisida yang berbentuk butiran seperti G dan WG2 Kemudian lanjutkan dengan pestisida yang berbentuk bubuk seperti WP, SP, dan SD3 Barulah yang ketiga Anda bsia mencampurkan dengan pestisida yang berbentuk larutan atau cairan. Jenis ini di antaranya EC dan sudah tercampur semua dengan benar dan tepat dalam satu larutan, Anda bisa menambahkan pupuk daun maupun bahan perekat. Tujuannya adalah untuk mencapai tingkat efektivitas yang tinggi dan bisa menghemat waktu dan biaya. Cukup mudah bukan cara mencampur pestisida dengan benar? Selamat mencoba!
Petani kita sering sekali mencampur pestisida tanpa mereka ketahui apakah dapat berfungsi dengan baik atau ada efek sampingannya, sehingga sering sekali di temui hasil penyemprotan tidak maksimal bahkan tidak berfungsi sama sekali. Percampuran pestisida memang tidak di larang untuk di lakukan, namun jika tidak mengetahuinya maka hasil yang di dapat nihil dan nol besar. Seperti apa yang di lakukan Casmat petani asal Cilamaya Karawang, yang mencampur herbisida merk Roundup dengan herbisida merk Gramoxon. Seperti yang kita ketahui bahwa Herbisida gramoxon memiliki sifat racun kontak sedangkan Roundup memiliki racun sistemik. Jika kedua herbisida ini di campur maka hasilnya akan dominan menjadi Gramoxon. Karena ketika di aplikasikan kedua merk herbisida ini secara di campur, maka pada selang waktu 5 - 7 jam rumput akan mati terkena bahan aktif gramoxon, sedangkan bahan aktif Roundup baru akan bekerja setelah 2 - 3 hari setelah aplikasi. Jadi Roundup tidak akan bekerja karena rumput sudah mati duluan terkena gramoxon. Hal seperti inilah yang harus di hindari sehingga tidak ada lagi pencampuran pestisida yang salah, sehingga pengendalian OPT tertangani dengan benar. Selain itu menggunakan campuran pestisida yang tidak benar juga akan merugikan petani, karena harus mengeluarkan modal yang besar untuk membeli pestisida. Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya kita baca baik-baik mekanisme pencampuran pestisida baik itu jenis insektisida, herbisida maupun fungisida. 1. Hati-hati mencampur pestisida bersifat asam dan basa Pestisida ternyata tidak selalu boleh saling dicampur. Kalau pestisida yang tidak boleh dicampur itu dipaksa dicampur juga, hasilnya tidak sehebat pestisida asli sebelum dicampur. Daya bunuh masing-masing pestisida menurun, malahan bisa hilang sama sekali. Itu karena terjadi “reaksi” antar bahan aktif dari msing-masing pestisida, sampai terbentuk senyawaan baru yang tidak beracun lagi. Sayangnya, tidak ada petunjuk khusus yang menerangkan, apakah dua pestisida bisa dicampur dalam pemakaian atau tidak. Pada tiap kemasan pestisida, paling hanya tercantum tulisan “Pestisida ini boleh dicampur dengan pestisida lain yang tidak bersifat basa”. Petunjuk itu ternyata masih mengandung tanya. Soalnya, pada tiap kemasan pestisida memang tidak pernah tercantum petunjuk, apakah pestisida itu bersifat basa atau tidak. Tapi, kalau hanya untuk mengetahui apakah suatu pestisida bersifat basa atau tidak, caranya tidaklah sulit. Kita bisa mengetesnya dengan pH meter atau kertas lakmus. Sebelum dites, pesisida yang berbentuk bubuk mesti kita larutkan dulu dalam air. Ambil 1 sendok teh bubuk pestisida, larutkan dalam 1 gelas air bersih. Pestisida yang berbentuk cair tidak perlu dilarutkan dalam air. Alat pH meter atau kertas lakmus lalu kita celupkan ke dalam larutan/ cairan pestisida. Dari jarum petunjuk pH meter, kita akan langsung tahu pH dari pestisida. Kalau jarumnya menunjuk angka di bawah 7, misalnya angka 6, 5 dan 4, berarti pestisidanya tidak basa. Sebaliknya kalau jarum itu menunjuk angka di atas 7, misalnya 8, 9 dan 10, pestisida itu bersifat basa. Kalau alat pengetesnya berupa kertas lakmus, untuk mengetahui pH pestisida, kita mesti mencocokkan warna lakmus setelah dicelup dengan “warna kunci” yang menyatakan angka pH. 2. Lihat menurut golongannnya yang tidak boleh dicampur Piretroid dengan piretroid — Hindari Piretroid dengan karbamat — Sedikit dianjurkan Karbamat dengan Karbamat — Hindari Karbamat dengan Organofosfat — Sedikit dianjurkan Karbamat dengan Nikotinoid — Sedikit dianjurkan Karbamat dengan Pirazol — Sedikit dianjurkan Organofosfat dengan organofosfat — Sedikit dianjurkan Nikotinoid dengan nikotinoid — Hindari Pirazol dengan pirazol — Hindari Contoh golongan Piretroid Salah satu anggota generasi pertama adalah Allethrin. Generasi ke dua adalah Resmethrin. Generasi ke tiga adalah Fenvalerate dan Permethrin. Generasi ke empat adalah cypermethrin, fluvalinat dan Deltamethrin dan lain-lain. Contoh golongan Karbamat Aldikarb, Metiokarb, Metomil, Propoxur, dan lain-lain. Contoh golongan Organofosfat TEPP, Malathion, Dimetoat, Dikrotofos, Mitamidofos, Asefat, Metil Parathion, Paration, Fention, Fonofos, Klorpirifos, Fention, Temephos, metidation dan lain-lain. Contoh golongan Nikotinoid Tiakloprid, Tiametoksam Insektisida Triazol.. Contoh golongan Pirazol Fenpiroksimat Akarisida, Fipronil Insektisida Fenil. 3. Sama Sifat Pencampuran pestisida tidak diperbolehkan bila sama-sama insektisida kontak atau sama-sama sistemik, sama-sama fungisida kontak atau sama-sama sistemik. Jika kita mencampur insektisida kontak dan sistemik juga boleh. Apalagi jika kita mencampur antara insektisida dengan fungisida, itu jelas boleh sekali. 4. Air Keruh Butek Hindari air yang keruh sebagai pencampur pestisida Air yang keruh akan mengurangi daya basmi pestisida tersebut. 5. Campur Pupuk Daun Sebahagian besar Pupuk Daun akan melemahkan pestisida terutama yang mengandung kadar Nitrogen tinggi. 6. Dicampur Pupuk kimia dan Organik Pestisida kimia tidak boleh dicampur dalam penggunaannya dengan pupuk organik, karena pupuk biologi itu akan menjadi tidak berfungsi. 7. Hindari penyemprotan pada saat terik dan malam hari. Apabila melakukan penyemprotan pestisida maka dilakukan pada Pukul – pagi atau – sore. Hindari penyemprotan pada saat matahari terik dan malam hari. Karena pada saat matahari terik dan malam hari mulut daun akan tertutup. semoga bermanfaat. terimakasih Tulisan ini di tulis oleh M. Nasikin di salah satu grup pertanian padi di media sosial facebook, tulisan ini kami tulis ulang karena kami anggap sangat bermanfaat, agar petani tidak salah dalam percampuran pestisida. Terimaksih. Sumber Cara Mencampur Pestisida Yang Benar
Pestisida ibarat dua sisi mata pisau, di satu sisi sangat membantu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, di sisi lain bisa saja menimbulkan dampak negatif pada tanaman bahkan mempengaruhi kesehatan penggunanya. Penggunaan pestisida yang tepat akan memberikan hasil terkendalinya serangan hama dan penyakit sebagaimana diharapkan. Namun jika kita tidak bijak dalam penggunaannya bisa mengakibatkan pestisida tidak efektif, bahkan bisa membuat tanaman jadi keracunan. Belum lagi dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan pengguna maupun konsumen akhir. Salah satu yang telah menjadi kebiasaan umum rekan-rekan petani adalah mencampur mixing beberapa jenis pestisida sekaligus dalam sekali aplikasi. Tujuannya tentu adalah penghematan tenaga dan waktu. Karena di lapangan seringkali tanaman mengalami beberapa ancaman sekaligus, seperti serangan beberapa jenis hama serangga dan serangan fungi atau bakteri patogen. Tidak terbayang betapa repotnya andaikata kita harus melakukan penyemprotan secara berganti-ganti antara dua atau lebih insektisida disusul fungisida ataupun bakterisida. Belum lagi pupuk daun yang tentu saja sangat penting untuk menjaga dan memulihkan kondisi tanaman. Satu-satunya solusi dalam kondisi seperti ini adalah melakukan mixing atau kombinasi. Kombinasi pestisida yang tepat tentu akan memberikan efikasi yang sinergis dan efisiensi yang cukup nyata. Sedangkan kombinasi yang tidak tepat akan menimbulkan inkompatibilitas antara pestisida satu dengan lain yang bersifat antagonis atau saling melemahkan serta pemborosan biaya. “Kompatibilitas pestisida adalah kesesuaian antara 2 atau lebih pestisida yang dicampurkan. Inkompatibilitas pestisida adalah ketidaksesuaian antara 2 atau lebih pestisida jika dicampurkan jadi satu sehingga menyebabkan perubahan fisik, susunan kimia maupun efikasi pestisida tersebut. Inkompatibilitas fisik misalnya jika pestisida yang dicampurkan membentuk gel, mengendap, atau menggumpal. Sedangkan inkompatibilitas kimia adalah terjadinya perubahan susunan molekul kimia karena reaksi antar pestisida menjadi senyawa baru yang bisa jadi bukan berfungsi sebgai pestisida lagi” Mengkombinasi pestisida bisa dikatakan sebagai seni karena diperlukan kerativitas rekan-rekan petani dalam memilih varian merek, bahan aktif, dan bentuk formula sehingga meghasilkan efikasi yang terbaik. Meski demikian ada teknik dan rambu-rambu yang harus diperhatikan. Berikut adalah beberapa prinsip yang bisa kita pegang di dalam melakukan kombinasi aplikasi pestisida secara efisien dan memberikan efektivitas yang prima. PEDOMAN AWAL Kenali dengan baik organisme apa saja yang mengancam tanaman. Jika tanaman kita masih baru dan tampak belum ada serangan organisme pengganggu tanaman OPT, amati tanaman sejenis di sekitar yang telah terdampak oleh serangan OPT. Yang perlu diingat. tujuan mencampur pestisida adalah untuk mengendalikan lebih dari 1 OPT yang berbeda pada pada 1 sasaran bagian tanaman yang sama, dimana diperlukan pestisida yang berbeda pula. Misalnya adanya serangan jamur patogen, kutu daun, dan ulat yang semuanya menyerang bagian daun. Untuk tiap jenis OPT yang menggunakan lebih dari 1 pestisida, sebaiknya diaplikasikan secara berselang-seling, misalnya untuk serangga thrips, antara insektisida kontak dan sistemik sebaiknya diselang-seling bukan dicampurkan jadi satu. Kenali dengan baik tujuan tindakan penggunaan pestisida berdasarkan fase serangan, apakah untuk tindakan preventif pencegahan dimana OPT belum menyerang secara masif, tujuannya untuk melindungi tanaman, ataukah sebagai tindakan kuratif yang bertujuan menghentikan serangan atau mengurangi populasi OPT secara drastis. Tentukan bahan aktif pestisida sesuai kekhususan terhadap target OPT, hindari membeli lebih dari satu merek pestisida yang berbahan aktif sama, misalnya abamectin merek A dengan abamectin merek B. Kenali mode of action cara kerja pestisida. Hindari membeli lebih dari satu jenis pestisida dengan mode of action yang sama. Juga hindari menggunakan 2 atau lebih pestisida yang segolongan misalnya golongan piretroid berbahan aktif A dengan piretroid berbahan aktif B. Untuk mengetahui cara kerja biasanya tercantum pada label pestisida, namun untuk mengenali golongan dan mode of action yang lebih lengkap bisa Anda lihat pada poster IRAC di halaman download. “Aplikasi pestisida bisa diibaratkan seperti menerapkan seni beladiri. Ketika berhadapan dengan lawan jago tinju yang sudah tahan pukulan dan tendangan serta dapat menangkis dengan baik kita akan sulit mengalahkan dengan teknik karate, silat atau tinju. Sebaiknya dilawan dengan kombinasi teknik gulat, judo atau jiu jitsu” MENCAMPUR BEBERAPA PESTISIDA SEKALIGUS DALAM SEKALI APLIKASI Jangan lakukan mixing pestisida dalam konsentrasi pekatan langsung dari kemasan. Sebaiknya pestisida dicampurkan ke dalam ember berisi air dan diaduk rata terlebih dulu baru kemudian diencerkan lagi dalam tangki semprot. Untuk menghindari inkompatibilitas jangan mencampurkan 2 atau lebih pestisida yang berbentuk fisik sama atau yang berbentuk formulasi sama misalnya larut air dengan larut air. Lebih mudahnya lihat tabel di bawah. Pestisida A Pestisida B Keterangan Larut air AS, SL, SP, SC, WSC, SG Larut air AS, SL, SP, SC, WSC, SG Jangan dicampur Larut air AS, SL, SP, SC, WSC, SG Tidak larut air / suspensi WP, F, WDG/DF Boleh dicampur Larut air AS, SL, SP, SC, WSC, SG Emulsi EC, E, EW Boleh dicampur Tidak larut air / suspensi WP, F, WDG/DF Tidak larut air / suspensi WP, F, WDG/DF Boleh dicampur Tidak larut air / suspensi WP, F, WDG/DF Emulsi EC, E, EW Boleh dicampur Emulsi EC, E, EW Emulsi EC, E, EW Hindari pencampuran Sebagai contoh, jika kita ingin mengaplikasikan 3 pestisida sekaligus yaitu insektisida untuk kutu daun, insektisida untuk ulat, dan fungisida. Untuk kutu daun kita pakai insektisida berbahan aktif abamektin gol. avermektin yang berbentuk formula EC, untuk hama ulat menggunakan insektisida asefat organofosfat berformula SP yang larut air, dan fungisidanya menggunakan propineb dithiokarbamat berformula WP. Pengendalian hama dan penyakit memang sebaiknya disertai dengan upaya pemulihan kondisi tanaman agar hasil panen tetap optimal. Oleh karenanya disarankan mencampur pestisida dengan pupuk daun. Pilihlah pupuk daun yang mempunyai pH larutan netral atau mendekati. Terutama yang mengandung unsur-unsur mikro dalam bentuk chellate, yaitu MICRONSEL. Pupuk daun dengan pH netral dan ber-chellate bisa dicampur dengan pestisida, namun untuk pestisida yang larut air AS, SL, SP, SC, WSC sebaiknya lakukan test kompatibilitas terlebih dulu karena ada beberapa yang tidak kompatibel. Pestisida alkali tembaga oksida dan tembaga hidroksida, sebaiknya diaplikasikan secara tunggal atau dicampurkan dengan pupuk kalsium karbonat yang tidak larut air. Sifat alkali berpotensi merubah struktur kimia formula berbasis minyak EC, EW, E dan formula larut air AS, SL, SP, SC, WSC. Sedangkan untuk formula tidak larut air suspensi ada kemingkinan bereaksi dengan formula yang mengandung sulfur thiol, thiokarbamat. Tembaga oksida / hidroksida pada larutan yang asam akan melarutkan sebagian tembaga dan jika berlebihan bisa saja meracuni sel tanaman. Kombinasi atau mixing pestisida tidak berarti boleh mengurangi dosis masing-masing dengan anggapan agar tanaman tidak keracunan. Apabila campuran pestisida tepat, variannya tidak terlalu banyak maka penggunaan sesuai dosis anjuran tidak akan menyebabkan tanaman keracunan. Untuk menghindari resistensi OPT, disarankan menggunakan 2 - 3 pestisida dengan bahan aktif dan mode of action yang berbeda untuk tiap jenis OPT dan aplikasinya diselang-seling, bukan dicampurkan jadi satu. Misalnya saat ini kita aplikasi insektisida sistemik digabung dengan fugisida kontak, aplikasi berikutnya ganti insektisidanya yang kontak sedangkan fungisidanya sistemik. Pestisida yang sudah dicampurkan dan diencerkan air harus digunakan sampai habis, tidak bisa disimpan untuk digunakan lain hari karena dalam beberapa jam bahan aktif akan terdegradasi dan berkurang daya kerjanya. URUTAN MENCAMPUR PESTISIDA Ada banyak metode urutan yang disarankan dalam mencampur beberapa pestisida dalam 1 kali aplikasi. Ada yang dimulai dari pestisida larut air, ada yang dimulai dari formula EC dan sebagianya. Dari bermacam metode urutan yang paling sering dipakai dan dianjurkan adalah metode WALES yang merupakan singkatan dari WP, Agitaion aduk, Liquid, EC, Surfactant termasuk adjuvan. Lebih detailnya sebagai berikut W – pestisida berformula WP atau dispersi sejenisnya F / WDG / DF A – agitation aduk-aduk rata L – salah satu dari pestisida berformula liquid soluble larutan diantaranya AS / SL / SP / SC / WSC / SG, aduk. E – salah satu dari pestisida berformula EC / E / EW, aduk S – surfaktan atau adjuvan. Pupuk daun bisa dicampurkan sebelum surfaktan/adjuvan maupun setelahnya. Tetapi jika dalam campuran tersebut terdapat pestisida larut air AS / SL / SP / SC / WSC / SG sebaiknya lakukan uji kompatibilitas terlebih dahulu dengan cara mencampurkan antara keduanya masing-masing 2 – 5 ml pada 5 - 10 ml air. Apabila tidak terjadi perubahan fisik berarti keduanya kompatible. Mungkin awalnya rekan-rekan petani akan bingung dengan pedoman ini, tetapi jika artikel ini dipahami dan mulai dibiasakan akan jadi mudah nantinya. Alangkah lebih baik lagi jika rekan-rekan petani mulai membiasakan diri membuat semacam tabel jadwal aplikasi pestisida untuk memudahkan. "Tidak ada hal yang mudah memang, tapi pemahaman yang baik disertai tindakan yang kita biasakan akan membuat kita makin mudah menjalaninya."
– Pupuk hantu merupakan pupuk cair organik yang bahannya setabil dan tepat untuk kebutuhan tanaman. Kualitas yang dihasilkan tentu banyak sekali membantu untuk mendorong tanaman tumbuh dan berbuah lebat. Kandungan hormon pengatur tumbuh memiliki kandungan 17 asam amino dan nutrisi vitamin A, D, E, K kompleks. Namun untuk pembuatanya sekarang dibatasi anda bisa memberikan kandungan yang memiliki unsur seperti di bawah ini. KANDUNGAN Hormon GA3, GA5, GA7, AUKSIN IAA, Kinetin, Zeatin Hara Makro/ Mikro C-Organik, N, P, K, Na, Mg, Cu, Fe, Mn, Zn, Co, Cd, Pb. 17 Asam Amino Asam Aspartat, Asam Glutamat, Serin, Glisin, Histidin, Arginin, Threonin, Alanin, Prolin, Tirosin, Valin, Methionin, Sistin, Isoleusin, Leusin, Phenilalanin, Lisin. Produk pupuk hantu yang ada dipasaran yang saya tahun, memiliki ZPT asam gibberelin, GA-3, GA-5, GA-7, auksin, sitokinin Kinetin, zeatin plus 17 ASAM AMINO, dan NUTRISI lengkap. Pupuk hantu merupakan pupuk cair yang dibuat hampir seperti halnya em4, penyesuaian ini memiliki hak cipta, mungkin saya tidak bisa membagikan untuk caranya yang lebih jelas. Namun ada cara untuk kita buat seperti menembus atau membuat komposisi yang hampir sama. Kita lihat kegunaan yang bisa dilakukan oleh pupuk hantu Daun jadi lebat, keras, padat, lebar, tebal, berisi, dan mengkilap. muncul warna aslinya dan tidak mudah rontok Batang mempercepat perkembangan batang dalam melakukan pembelahan sel, sehingga cepat besar, kokoh, dan berurat. Bunga bunga akan cepat keluar, kuncup di setiap pori pembungaan dan tidak mudah gugur. Buah mempercepat putik bunga jadi buah. Buah jadi lebih padat, besar, dan berisi. Buah semakin lezat dan beraroma. Akar mempercepat pertumbuhan akar baru dan kokoh. Halnya dengan pupuk cair lainnya kandungannya tidak jauh berbeda, pupuk cair pada dasarnya bisa menumbuhkan tanaman misalnya Cara membuat pupuk organik cair untuk padi melimpah Bahan Masukan Pupuk Hidroponik Dan Setandar Komposisi Cara Pemakaian ZPT HANTU dan NPK JAGOTANI 1. Sayur-Mayur misal tomat, terong, gambas, buncis, cabai, bawang, kacang panjang, seledri, dll dosis 2 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap 10 hari cara semprot dikabutkan mist spray atau fogging 2. Buah Batang Merambat misal anggur, berry, semangka, melon, mentimun, dll dosis 2 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap 10 hari di bulan pertama, tiap 20 hari pada bulan selanjutnya cara semprot dikabutkan mist spray atau fogging 3. Buah Batang Keras misal rambutan, jambu, jeruk, duren, belimbing, mangga, apel, dll dosis 5 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap 15 hari di bulan pertama, tiap 20 hari pada bulan selanjutnya cara 1 semprot dikabutkan mist spray atau fogging, 2 lukai batang tanaman hingga kambium lalu kuaskan pupuknya 4. Palawija, Padi, Umbi misal kacang hijau, kedelai, padi, jagung, ubi jalar, singkong, kacang tanah, dll dosis 2 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap 10 hari di bulan pertama, tiap 20 hari pada bulan selanjutnya cara semprot pengkabutan untuk padi selama berbunga hingga selesai atau bulir padi merunduk jangan disemprot. kalau setelah selesai berbunga, baru disemprot lagi. 5. Tanaman Hias misal untuk semua jenis tanaman hias dosis 2 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap 10 hari cara 1 semprot dikabutkan mist spray atau fogging, 2 lukai batang tanaman hingga kambium lalu kuaskan pupuknya. 6. Perkebunan misal cengkeh, coklat cacao, kopi, teh, dll dosis 4 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap 15 hari di bulan pertama, tiap 30 hari pada bulan selanjutnya cara semprot dikabutkan mist spray atau fogging 7. Khusus untuk kelapa dan kelapa sawit dosis 6 ml/cc, campur 1 lt air, lalu aduk/ kocok frekuensi tiap bulan cara 1 semprot dikabutkan mist spray atau fogging, 2kocorkan/ siram pada tanah sekeliling tanaman.
Unknown9 Mei 2021 pukul sya udah 2x testimoni untuk pohon karet,,aplikasi sy semprotkan PD batang dan tanah nya,sy pake POC NASA,super NASA,hormonik,,sya jadikan satu,,lalu aku campur dengan pupuk NPK16,sebnyak 1kg,kok SDH satu bulan gkda peningkatan mlh getah semakin sedikit,,mohon pencerahan nya pakBalasHapus
bolehkah pupuk hantu dicampur pestisida